Rabu, 27 Maret 2013

CONDITIONAL SENTENCES



Nama   : Rima Rahmawaty
NPM   : 16209749
Kelas   : 4EA15
Tugas   : Softskill Bahasa Inggris Bisnis 2




CONDITIONAL SENTENCES


Conditional sentences are sentences expressing factual implications, or hypothetical situations and their consequences. They are so called because the validity of the main clause of the sentence is conditional on the existence of certain circumstances, which may be expressed in a dependent clause or may be understood from the context.

There are three types conditional sentences:

Type I             : Future conditional sentences
Type II            : Present conditional sentences
Type III           : Past conditional sentences

Type I
Future conditional sentences

Future conditional sentences is used to talk about possible situations in the future.

Examples:

1.            If your manager calls me, I shall meet him.
2.            If you invite me, I shall enjoy your party.
3.            If I have time, I will come to see you.
4.            If John finishes study this year, he will work at Garuda C.O.
5.            If you reserve your ticket today, you will leave from Jakarta tomorrow.

Pattern:

IF + S + VI(es) + O + (adv) + S + will/shall + VI + O + (adv)

Simple present                          Present future
Sub klause                                 Main klause

It means:

It is possible for…..to VI………and

1.      a. It is possible for your manager to call me and
b. It is possible for me to meet him.

2.      a. It is possible for you to invite me and
b. It is possible for me to enjoy your party.
3.      a. It is possible for me to have time and
b. It is possible for me to come to see you.

4.      a. It is possible for John to finish his study this year and
b. It is possible for him to work at Garuda C.O.

5.      a. It is possible for you to reserve your ticket today and
b. It is possible for you to leave from Jakarta tomorrow.

Type II
Present conditional sentences

Conditional sentence  is used to talk about actions or situations that are not taking place in the present (contrary to the fact).

Examples:
 
1.            If I were a manager, I should work at Mandari hotel.
2.            If they were here, we should invite them for the party.
3.            If you came on time, we should meet on time.
4.            If she worked hard, he should get a lot of money.
5.            If they were diligent to work, our manager should not be angry with them.

Pattern A:

IF + S + VII + (O) + (adv), S + would/should + VI + (O)

Simple past                          Past future


This sentence patterns can be reversed without changing the meaning.

Pattern B:

S + would/should + VI + (O), if + S + VII + (O) + (adv)

                                     Past future                                      Simple past

Examples: 
1.            I should work at Mandari hotel, If I were a manager.
2.            We should invite them for the party, If they were here.
3.            We should meet on time, If you came on time.
4.            He should get a lot of money, If she worked hard.
5.            Our manager should not be angry with them, If they were diligent to work.

It means (real fact):

S + don’t/doesn’t + VI + O + so that + S + don’t/doesn’t + VI

OR

S + don’t/doesn’t + VI + O + because + S + don’t/doesn’t + VI

Note:  
  • So that is used to if in front of a sentences. 
  • Because is used to if in the middle sentences.

Pattern A: If you called me today, I should visit you.
It means  : You don't call me today so that I don't visit you.

Pattern B: I should visit Mary, If she called me today.
It means : I don't visit Mary because she doesn't call me today.

Type III     
Past conditional sentences

Conditional sentence is used to talk about actions or situations that did not take or were not taking place in the past (contrary to the fact and past situation).

Examples: 

1.            If our manager had been at hotel yesterday, I should have met him.
2.            If Lucinda had studied hard last year, she should have finished her study.
3.            If they had booked some rooms last week, they should have stayed at our hotel last night.
4.            If I had been well yesterday, I should have joined you.

Pattern A:

If + S + had + VIII + O + (adv), S + should/would + have + VIII + O + (adv)

  Past perfect                                Past future perfect

This position of sentence patterns can be changed without changing the meaning.

Pattern B:

S + should/would + have + VIII + O + (adv), If + S + had + VIII + O + (adv)

Examples: 

1.            I should have met him, If our manager had been at hotel yesterday.
2.            She should have finished her study, If Lucinda had studied hard last year.
3.            They should have stayed at our hotel last night, If they had booked some rooms last week
4.            I should have joined you, If I had been well yesterday.

      It means/ real fact: Past situation and contrary to the fact.
     
S + didn't + VI + so that + S + didn't + VI

OR 

S + didn't + VI + because + S + didn't + VI
Examples:

1.            If you had finished your work last night, we should have gone to tne cinema.
It means: you didn’t finish your work last night so that we didn’t go to the cinema.
2.            If Annie had reserved her ticket three years ago, she should have got a flight to Denpasar yesterday.
It means: Annie didn’t reserve her ticket three days ago so that she didn’t get a flight to Denpasar yesterday.
3.            They should have stayed in our hotel last night because they had booked the rooms before.
It means: they didn’t stay in our hotel last night because they didn’t book the rooms before. 


Sumber:

Tambunan, Tony. (2007). English grammar for Paramitha tourism high school. Jakarta.
http://en.wikipedia.org/wiki/Conditional_sentence
http://www.ego4u.com/en/cram-up/grammar/conditional-sentences


Senin, 12 November 2012



SUBBAB 3
KONSUMEN ADALAH RAJA


Sebuah bisnis sangat tergantung dengan konsumen. Namun demikian, para pelaku bisnis juga harus menyadari bahwa umumnya konsumen tidak peduli dan tidak mau tahu dengan masalah sehari-hari yang dialami oleh pelaku bisnis karena yang ada di pikiran konsumen adalah apa yang meraka butuhkan harus terpenuhi tanpa mau tahu bagaiman sulitnya memenuhi semua keinginan konsumen tersebut. Atas dasar itulah kemudian muncul stigma di masyarakat bahwa konsumen adalah raja.

Sudahkah budaya ”konsumen adalah raja” terjadi di negara kita ? P.engertian Raja dalam arti ini diberi pelayanan yang baik, service yang baik, yang lebih penting lagi membeli barang yang benar-benar sesuai kualitas dengan garansi yang layak. Melayani dengan baik, pada umumnya di jumpai tidak lebih dari kemampuan pelayan dalam berkomunikasi, memikat pembeli untuk tertarik dan kemudian membeli produk tersebut. Untuk memenuhi syarat ini biasaya pemilik akan menyeleksi karyawan-karyawan yang unggul dalam komunikasi, dengan dipicu dengan berbagai komisi. Misalnya penjualan melebihi target, akan diberi bonus tambahan. Cara ini efektif memajukan strategi penjualan, jika mengejar target dengan bujukan yang berlebihan dalam mengenalkan produk, cara ini akan merugikan pembeli.

Berikut ini adalah hak yang sering dilanggar pelaku bisnis:
  1. Hak atas kenyamanan
  2. Hak untuk memilih
  3. Hak atas informasi
  4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya
  5. Hak untuk mendapat pendidikan
  6. Hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif
  7. Hak untuk mendapatkan ganti rugi
  8. Hak yang diatur dalam perundang-undangan lainnya

REFERENSI:
http://www.artikelekonomi.net/2012/perkembangan-gerakan-konsumen-di-indonesia/
SUBBAB 2 
GERAKAN KONSUMEN

Bagaimana dengan sejarah awal mula munculnya gagasan hukum konsumen dan berdirinya gerakan-gerakan perlindungan konsumen di Indonesia? Masalah perlindungan konsumen di Indonesia baru mulai terjadi pada dekade 1970-an. Hal ini ditandai dengan berdirinya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada bulan Mei 1973 (Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2003: 15).

Ketika itu, gagasan perlindungan konsumen disampaikan secara luas kepada masyarakat melalui bebagai kegiatan advokasi konsumen, seperti pendidikan, penelitian, pengujian, pengaduan, dan publikasi media konsumen. Ketika YLKI berdiri, kondisi politik bangsa Indonesia saat itu masih dibayang-bayangi dengan kampanye penggunaan produk dalam negeri. Namun, seiring perkembangan waktu, gerakan perlindungan konsumen (seperti yang dilakukan YLKI) dilakukan melalui koridor hukum yang resmi, yaitu bagaimana memberikan bantuan hukum kepada masyarakat atau konsumen (Yusuf Shofie, 2002: 28).

YLKI merupakan salah satu lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM) yang bisa dikatakan sebagai pelopor gerakan perlindungan konsumen pertama di Tanah Air. Tujuan pendirian lembaga ini adalah untuk membantu konsumen agar hak-haknya bisa terlindungi. Di samping itu, tujuan YLKI adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis konsumen tentang hak dan tanggung jawabnya sehingga bisa melindungi dirinya sendiri dan lingkungannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, YLKI melakukan kegiatan (C. Tantri D. dan Sulastri, 1995: 9-15) sebagai berikut.

  1. Bidang pendidikan.
  2. Bidang penelitian.
  3. Bidang penerbitan, warta konsumen, dan perpustakaan.
  4. Bidang pengaduan.
  5. Bidang umum dan keuangan.

Sebenarnya, didirikannya YLKI adalah sebagai bentuk keprihatinan sekelompok ibu-ibu pada saat itu yang melihat perkembangan masyarakat Indonesia yang lebih menyukai produkproduk luar negeri. Munculnya YLKI tidak lepas dari kampanye “cinta produk dalam negeri” yang saat itu kritis terhadap barang/ jasa yang tidak aman atau tidak sehat untuk dikonsumsi. Upaya YLKI yang pertama adalah mendesak produsen susu kental manis untuk mencantumkan label “Tidak Cocok untuk Bayi” dalam kemasan susu kental manis, yang lebih banyak mengandung gula daripada susu.

Sebagai salah satu LPKSM, YLKI masih terus berkembang hingga kini dan tetap menjadi pelopor gerakan perlindungan konsumen. Pihak konsumen yang menginginkan adanya perlindungan hukum terhadap hak-haknya sebagai konsumen bisa meminta bantuan YLKI untuk melakukan upaya pendampingan dan pembelaan hukum.

Setelah itu, sejak dekade 1980-an, gerakan atau perjuangan untuk mewujudkan sebuah undang-undang tentang perlindungan konsumen (UUPK) dilakukan selama bertahun-tahun. Pada masa Orde Baru, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak memiliki greget besar untuk mewujudkannya karena terbukti pengesahan Rancangan Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen (RUUPK) selalu ditunda.

Baru pada era reformasi, keinginan terwujudnya UUPK bisa terpenuhi. Pada masa pemerintahan BJ Habibie, tepatnya pada tanggal 20 April 1999, RUUPK secara resmi disahkan sebagai UUPK. Dengan adanya UUPK, jaminan atas perlindungan hak-hak konsumen di Indonesia diharapkan bisa terpenuhi dengan baik. Masalah perlindungan konsumen kemudian ditempatkan ke dalam koridor suatu sistem hukum perlindungan konsumen, yang merupakan bagian dari sistem hukum nasional.

Dalam Penjelasan UUPK, disebutkan bahwa keberadaan UU Perlindungan Konsumen adalah dimaksudkan sebagai landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan konsumen. Dengan kata lain, UU Perlindungan Konsumen merupakan “payung” yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen.

Seiring perkembangan waktu, gerakan-gerakan konsumen banyak tumbuh dan berkembang di Tanah Air. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM), sebagai lembaga yang bertugas melindungi hak-hak konsumen, menjamur di mana-mana. Tentunya, perkembangan tersebut patut disambut secara positif.

Munculnya gerakan konsumen adalah untuk membangkitkan kesadaran kritis konsumen secara kontinuitas. Kesadaran kritis ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan hak-hak konsumen, tapi juga dalam proses pengambilan keputusan yang terkait tentang kepentingan konsumen, serta berbagai keputusan yang terkait dengan kepentingan publik dan konsumen yang harus dipertanggungjawabkan secara terbuka.


REFERENSI:
http://www.artikelekonomi.net/2012/perkembangan-gerakan-konsumen-di-indonesia/
BISNIS DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

Pengertian Bisnis
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Pengertian Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. Sebagai contoh, para penjual diwajibkan menunjukkan tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen.

Perangkat Hukum Indonesia
UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah:
  1. Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), pasal 21 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27 , dan Pasal 33.
  2. Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 3821
  3. Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat.
  4. Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa
  5. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen
  6. Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota
  7. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen


SUBBAB 1
HUBUNGAN PRODUSEN KONSUMEN

Produsen ialah orang yang menghasilkan barang atau jasa untuk keperluan konsumen. Barang atau jasa yang dihasilkan produsen disebut produksi, sedangkan yang memakai barang dan jasa disebut konsumen. Dalam ilmu ekonomi dapat dikelompokkan pada golongan besar suatu rumah tangga yaitu golongan Rumah Tangga Konsumsi (RTK), dan golongan Rumah Tangga Produksi (RTP).

Rumah Tangga Konsumsi ialah kelompok masyarakat yang memakai barang dan jasa, baik secara perorangan, atau keluarga atau organisasi masyarakat. Tetapi kelompok rumah tangga konsumsi ini juga merupakan kelompok yang memberikan beberapa faktor produksi:
  1. Orang yang menyewakan tanah untuk keperluan perusahaan, pabrik, dan tempat kedudukan perusahaan.
  2. Orang yang menyerahkan tenaga kerja untuk bekerja pada suatu perusahaan atau pabrik.
  3. Orang yang menyertakan modal usaha untuk diusahakan.
  4. Tenaga ahli dari masyarakat untuk perusahaan.
Sedangkan Rumah Tangga Produksi yang menerima faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal, keahlian) dari masyarakat kemudian diolah dan diorganisir agar menghasilkan barang dan jasa. Produksi (barang dan jasa) itu dijual pada masyarakat sehingga memperoleh uang yang banyak dari hasil penjualan itu.

Akibatnya, antara konsumen dan produsen tidak bisa dipisahkan, artinya saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Jika perusahaan menghasilkan suatu barang dan jasa harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kalau tidak, maka produksinya tidak akan laku dijual. Namun, jika produsennya cukup pintar, mereka bahkan bisa menciptakan kebutuhan konsumen tersebut dengan cara promosi dan iklan yang gencar. Sehingga kebutuhan konsumen yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Cara tersebut disebut dengan inovasi, yaitu menciptakan sesuatu yang belum ada atau menyempurnakan yang sudah ada sehingga mempunyai fungsi yang lebih hebat lagi.

REFERENSI:
http://www.artikelekonomi.net/2012/perkembangan-gerakan-konsumen-di-indonesia/

UTILITIRIANISME



Pengertian Utilitirianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.

Teori Tujuan Perbuatan
Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan. Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang. Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara etis dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.

Beberapa Ajaran Pokok

  1. Seseorang hendaknya bertindak sedemikian rupa, sehingga memajukan kebahagiaan (kesenangan) terbesar dari sejumlah besar orang.
  2. Tindakan secara moral dapat dibenarkan jika ia menghasilkan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan, dibandingkan tindakan yang mungkin diambil dalam situasi dan kondisi yang sama.
  3. Secara umum, harkat atau nilai moral tindakan dinilai menurut kebaikan dan keburukan akibatnya.
  4. Ajaran bahwa prinsip kegunaan terbesar hendaknya menjadi kriteria dalam perkara etis. Kriteria itu harus diterapkan pada konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari keputusan-keputusan etis.

Utilitarianisme Peraturan

  1. Kriteria penilaian moral mendapatkan dasar pada ketaatan terhadap perilaku moral umum.
  2. Tindakan moral yang dibenarkan adalah tindakan yang didasarkan pada peraturan moral yang menghasilkan akibat-akibat yang lebih baik.



REFERENSI: